Apa dan Siapa Seniman Jalanan Itu?

Seniman Jalanan barangkali kata mewah untuk pengamen yang setiap hari mengganggu atau bahkan menyakiti telinga sebab suara falesnya atau bau badannya saat manggung di angkutan umum, pasar, toko, atau di depan pintu rumah Anda. Pertanyaannya, apakah seniman jalanan adalah profesi yang sangat rendah di mata masyarakat, lalu apa dan siapa yang berhak menyandang gelar seniman jalanan?

Virgiawan Listanto atau yang populer dengan nama panggung Iwan Fals adalah satu dari sekian banyak pengamen jalanan. Lewat lagulagunya yang memotret kehidupan kaum akar rumput menghantarkan dirinya menjadi salah satu musisi berpengaruh di tanah air, sebut saja lagu berjudul: Bento, Siang Seberang Istana, Lonteku, Bongkar, Wakil Rakyatyang akrab di telinga, seakanakan menjadi lagu wajib bagi seorang pengamen jalanan, tentu selain lagu wajib mars Indonesia Raya.

Iwan Fals, hanyalah satu dari sekian banyak pengamen jalanan yang berhasil menapaki puncak kejayaannya sebagai seorang seniman. Selain di bidang musik dan tarik suara, predikat seniman jalanan juga melekat pada seni lukis, siapa yang tak kenal pelukis Osmania, yang masa mudanya dihabiskan dihabiskan di kawasan Senen, Kota Jakarta, untuk menjajakan hasil karya lukisannya.

Sepertinya keberhasilan dua seniman di atas tidaklah cukup bagi masyarakat untuk tidak memandang sebelah mata para seniman jalanan ini. Celakanya, profesi seniman jalanan dipandang sebagai pekerjaan rendahan di mata masyarakat. Terlebih bagi masyarakat urban yang identik dengan kemewahan. Masyarakat tak melihat lebih jauh apakah seni itu, bagaimana para seniman menceburkan diri pada profesi yang tidak jelas itu.

Setidaknya, ada dua kemungkinan mengapa pekerajaan mengamen terus digeluti. Pertama, faktor seni itu sendiri. Tidak sedikit pengamen yang menekuni pekerjaan itu dengan sungguh-sungguh karena kecintaannya terhadap seni, tentu sambil berharap dan berusaha meraih keberhasilan sebagai seniman besar yang menghasilkan banyak uang dan popularitas tentunya, seperti Iwan Fals misalkan.

Kedua, tidak ada pilihan. Mereka yang terpaksa menceburkan diri dengan mengamen sebagai satu-satunya cara untuk mengais koin demi hidup karena terbatasnya pilihan. Bisa jadi karena tidak punya keahlian sesuai standar pekerjaan modern saat ini atau tak terbentur gelar strata pendidikan yang diterapkan sebuah perusahaan pada umumnya. Pada akhirnya, mereka terpaksa mengambil pilihan itu sebagai pekerjaannya, ironisnya jumlahnya tidak sedikit.

Tetapi bagaimanapun juga, seniman jalanan adalah sebuah profesi yang harus dihormati dan diterima keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. Mereka sama sekali bukan manusia-manusia pemalas, melainkan manusia dengan pilihannya dan manusia yang tak mempunyai banyak pilihan. Toh, pada dasarnya mereka sama-sama menghibur layaknya pengamen yang sering wira-wiri di televisi. Bedanya hanya pada konsep yang mewah sedang yang di jalanan ala kadarnya.

Penyanyi bintang pop misalkan, mereka harus tampil di atas panggung dengan pakaian mewah, instrumen musik mahal, dan ditontonan oleh jutaan umat. Atau pelukis professional yang harus memajang karyanya di gedung, hotel, museum, atau tempat khusus demi menyelaraskan konsep maha karyanya. Pada akhirnya, ujungnya sewarna, yakni memberi hiburan. Apakah pengamen yang menggelar konser tanpa sponsor, menjadikan metromini, angkutan umum lainnya, dan pelataran rumah orang dijadikannya sebagai panggung, apakah tidak memberi hiburan? Seakan-akan keberadaan mereka seperti keberadaan mahluk-mahluk dari negeri kegelapan, macam Lycan yang mendatangi kota untuk menghisap darah manusia, melukai mata dan telinganya?.

Kalau benar seperti itu, masyarakat sekarang tidak adil menilai seni. Barangkali dibenaknya seni hanya tentang kemewahan, keindahan, keagungan, atau mahakarya penciptaan oleh pelaku seniman itu sendiri. Kalau ketidakadilan ini tidak diluruskan, penilaian akhir hanya akan menjadi vonis, tembok pemisah, karena ujungnya akan menjadi stigma di masyarakat kalau tidak mewah dan indah bukanlah seni, melainkan pengamen dengan ratusan predikatnya yang berkonotasi buruk.

Tanpa sadar masyarakat mengkastakan profesi pelaku seniman dari yang terhormat, dipuja-puji, sampai yang dihinakan, dicaci maki, dan tidak dirindukan kehadirannya. Mereka adalah manusia-manusia dengan profesi pengamenan jalanan, kata seniman terlalu mewah bagi masyarakat yang tak tahu arti seni dan dengan ketidaktahuannya, masyarakat telah mengadili dan mengkerdilkan profesi pengamen jalan dalam persepektif strata sosial. Sebenarnya panilaian seperti ini sangat saya sesalkan.

Menggali Kuburan Lekra

Jakarta, 17 Agustus 1950, organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat atau yang lebih dikenal dengan akronim Lekra dideklarasikan. Keberadaannya bukan hanya menjadi polemik, melainkan juga menjadi magnet bagi para seniman. Mendadak Lekra seperti matahari yang menjadi pusat perhatian para pelaku seni dan kebudayaan di Indonesia pada waktu itu.

Njoto dan Jurus 1-5-1

Jakarta, 17 Agustus 1950, sejumlah seniman berkumpul di Ibu Kota, tepatnya dikediaman Ashar, di antaranya: A.S Dharta, M.S. Azhar, Henk Ngantung, Joebar Ajoeb, Sudharnoto, Aidit, dan Njoto, mereka bersepakat mendirikan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan A.S Dharta terpilih sebagai sekretaris umum pertama Lekra. Ada beberapa alasan dibentuknya Lekra, salah satunya seperti yang dikatakan Hesri Setiawan, Sekretaris Pimpinan Daerah Lekra Jawa Tengah, dalam Lekra dan Geger 1965:Tempo, pembentukan Lekra  tak bisa dilepaskan dari situasi politik Tanah Air kala itu. Setelah Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda pada 1949, Indonesia tidak bisa dikatakan merdeka seratus persen. Jadi pembentukan Lekra bertujuan membebaskan diri dari ketergantungan pada negeri penjajah.

Dalam perjalannya, barangkali di antara para pendiri Lekra, Njoto mempunyai pengaruh paling besar. Njoto adalah pemuda jenius, saat usianya belum genap 33 tahun ia sudah mencapai puncak kejayaan sebagai manusia yang pernah hidup di bawah telapak kaki penjajah Belanda dan Jepang. Bahkan anak muda itu sangat dikagumi oleh semua orang dari berbagai golongan, khususnya golongan kiri. Lahir pada 1927 di Jember, Jawa Timur, Ayahnya, Raden Sosro Hartono, mendidiknya dengan ala militer yakni keras, tegas, dan displin. Pada saat usianya beranjak 16 tahun, anak muda cungkring itu sudah dipercaya menjabat wakil Partai Komunis Indonesia Banyuwangi dan menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat di Yogyakarta. Padahal saat itu, ia masih duduk di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau orang pribumi menyebutnya Mulo-setingkat Sekolah Pertama di Solo, Jawa Tengah. Dan saat itu, ia menjabat sebagai wakil ketua Central Comite Partai Komunis Indonesia, atau yang akrab ditulis CC PKI.

Selain aktif di tubuh organisasi Lekra dan Partai Komunis Indonesia, Njoto juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Harian Rakjat. Media koran harian yang juga menjadi terompet Partai Komunis Indonesia itu, Njoto memberikan ruang seluas-luasnya pada seniman untuk menulis dan berpendapat, mengingat Njoto adalah seorang yang sederhana, terbuka, dan egaliter.

Di bawah kepimpinan Njoto bisa dikatakan Harian Rakjat mencapai puncak kejayaannya. Harian Rakjat yang berkantor di Jalan Pintu Besar Selatan Nomor 93, Kota Jakarta, yang meniru koran komunis dari Rusia, Pravda, dengan gaya tulisan yang meledak-ledak, tanpa basa-basi, dan tembak di tempat. Mereka meyakini gaya bahasa seperti itu dapat dimengerti dan disukai oleh golongan antah-berantah, akar rumput, atau manusia yang bertelanjang dada, itulah potret mahluk pribumi sebelum masuknya era reformasi dan globalisasi dalam kehidupan mutakhir kini.

Kejayaan Harian Rakjat dikuatkan dengan pernyataan Amarzan, oplah Harian Rakjat atau HR mencapai 100 ribu eksemplar. Sedangkan dalam catatan Program dan Pelaksanaan susunan Kementerian Penerangan 1958, menyebutkan oplah HR kurang lebih di angka 60 ribu eksemplar.

Solo 1959, Taman Sriwedari di Jalan Brigadir Jendral Selamet Riyadi menjadi saksi bisu atas terselenggaranya hajatan kongres pertama sekaligus yang terakhir Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Gapura dihiasi lukisan, umbul-umbul dan bendera Merah Putih tegak berkibar di sepanjang tepi jalan. Ribuan Mahluk bernama manusia berkumpul menyaksikan kemeriahan dan hiburan. Di area taman satu demi satu seniman Lekra bergantian menampilkan pementasan puisi, ludruk, ketoprak, wayang orang, reog, tarian dan nyanyian.

Gaung terompet kemeriahan hari itu menandai dibukanya kongres pertama Lekra. Bahkan pesta kebudayaan berlangsung hingga sepekan.  Setiap malam jumlah pengunjung mencapai 15 ribu orang. Ini adalah bukti pesona, kematangan, dan kebesaran organisasi yang dibentuk pada 17 Agustus 1950 silam.

Tidak main-main pemimpin dan anggota kongres menggoreng matang arah perjuangan Lekra yang dibuktikan dengan merevisi dan merumuskan konsep kereja berkesenian. Hasilnya adalah lahir konsep 1-5-1, yang berarti, kerja kebudayaan bergariskan politik sebagai panglima dengan lima kombinasi: meluas dan meninggi, tinggi mutu ideologi dan tinggi mutu artistik, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individual dan kearifan massa, serta realisme sosialis dan romantik revolusioner. Semua konsep itu diwujudkan dengan satu badan dan jiwa yakni turun ke bawah (turba).

Dalam perkembangannya, Lekra menjadi medan magnet bagi para seniman. Tidak ada satu pun wadah organisasi kebudayaan sebesar dan sekaligus dapat menandingi pesona Lekra yang mewabah hingga ke pelosok desa. Sejalan dengan ditelurkannya konsep kerja berkesenian 1-5-1, Lekra merombak struktur organisasinya beberapa bulan setelah kongres di Solo. Lekra menyusun lembaga kreatif, Februari 1959, Lembaga Seni Rupa berdiri, diikuti oleh Lembaga Film Indonesia pada tahun yang sama, April 1959. Masih di bulan dan tahun yang sama lembaga kreatif lainnya juga berdiri, yakni Lembaga Sastra Indonesia yang diketuai oleh Bakrie Siregar. Di tahun yang sama berdiri Lembaga Musik Indonesia, sedangkan yang berdiri belakangan adalah Lembaga Tari Indonesia, sebelum Lembaga Seni Drama Indonesia dibentuk pada tahun 1964.

Celakanya, lembaga kreatif Lekra menyerang semua pelaku seni dan budaya yang tidak sesuai dengan arah perjuangannya, atau mereka menyebutnya seni untuk rakyat. Di lembaga film contohnya, mereka melarang beredarnya film-film Barat, bagi meraka film Barat merusak karakter dan moral bangsa. Begitupun Lembaga Sastra Indonesia yang melarang beredarnya buku-buku Barat. Hampir semua perpustakaan dan toko buku dijejali buku-buku dari Rusia dan China. Semua lembaga kreatif lekra berjalan satu komando dan barisan yakni memegang teguh konsep 1-5-1.

Manikebu versus Lekra

Pada 17 Agustus 1963, sejumlah seniman mendeklarasikan Manifestasi Kebudayaan, di antaranya: H.B Jassin, Trisno Sumardjo, Wiratmo, Goenawan Mohammad, A. Bastari, Soe Hok Djin atau yang dikenal dengan nama Arief Budiman. Meski terbilang berumur pendek, kurang lebih 10 bulan, nyatanya keberadaan Manifestasi Kebudayaan membuat Presiden Soekarno, Partai Komunis Indonesia, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), dan kelompok Pro-Manipol Usdek lainnya gerah. Mereka ramai-ramai mengeroyok Manifestasi Kebudayaan.

Slogan Manipol Usdek-Manifesto Politik, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia, yang dikhutbahkan Soekarno merupakan suatu jalan garis lurus proses penciptaan karya seni. Mereka yang menolak akan diintimidasi, diganyang, atau bila perlu akan digelari kontrarevolusi. Tidak lain, korbannya adalah pelaku dan pendukung Manifestasi Kebudayaan. Puncaknya pada 8 Mei 1964, Manifestasi Kebudayaan secara resmi dilarang oleh Pemerintahan Soekarno.

Hilang dari Ingatan

Tahun 1965 bisa jadi adalah tahun puncak kejayaan Lembaga Kebudayan Rakyat (Lekra). Sebab, pasca Partai Komunis Indonesia gagal merampok ideologi Republik Indonesia atau yang kita kenal dengan peristiwa G 30 S/PKI, Lekra terkena imbasnya. Semua yang berbau komunis dikejar-kejar, disiksa, dipenjarakan, diasingkan, dan dibunuh. Tak terkecuali para seniman Lekra.

Sejatinya, tanggal 17 Agustus 2018 besok, bukan hanya merayakan hari jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, melainkan juga hari lahirnya organisasi kebudayaan besar yang pernah ada di Indonesia, tidak lain ialah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang ke 58 tahun. Namun, badai politik menghancurkannya hingga ke akar-akarnya hanya dalam kedipan mata. Dan kini, barangkali Lekra hanyalah tinggal cerita. Bahkan jikalau dianalogikakan dengan makam, maka kuburan dan nisan Lekra tidak dapat lagi ditemukan, Jalan Cidurian Nomor 19 bekas kantor sekretariat Lekra tak ada lagi. Sebab, telah ditindas bangunan lain. Barangkali, itu hanya satu dari sekian jejak-jejak Lekra yang coba dihapuskan dari ingatan.

Tiga Puisi Pendek Perihal Cinta

Hujanmu

Sebelum dikau menjadi badai

aku telah menjadi puing

serupa jejak-jejak hujanmu

yang menanggalkan kesunyian

seperti sajak-sajakku

yang menggigil kesepian

Pada tubuh puisi jari-jariku

menyentuh dirinya sendiri.



Mengingatmu

Setiap kali aku mengingatmu seperti

menyalakan api untuk membakar

diri sendiri. Membiarkan usia kesepian

lebih panjang dari usia cintamu yang

ringkas. Merelakan diri sepenuhnya

menjadi milik sepi



Cinta

:s.z

My runs to thee; blue sea wilt welcome me?

My river await reply. Oh, sea look graciously.

__Emily Dickinson

Matahari tidak pernah mengucapkan selamat pagi

rembulan juga tidak mengecupkan selamat malam

mungkin keningmu butuh kecupan karena mencintai

tak selalu berupa ucapan, seperti puisi Emily Dickinson

yang membutuh bibirku untuk menyentuh telingamu

satu bahasa yang dimengerti oleh seluruh manusia

yang berarti  memiliki dan dimiliki.

Mahasiswa Sastra (Unpam) tak Nyastra

Bila ada pertanyaan yang ditujukan ke kening mahasiswa sastra Universitas Pamulang (Unpam), siapa penyair yang menulis puisi O, Captain, My Captain!? Atau menyuruh salah satu dari meraka untuk  membacakan 1-2 buah puisi karya Pablo Neruda, dan menyebutkan tiga judul novel Knut Hamsun selain Pan, Hungry, dan Mystery pasti mereka akan tampak gugup dan gagap. Karena mungkin pertanyaan ini terlalu berbobot untuknya. Baik mahasiswa sastra tingkat akhir, maupun yang baru.

Hampir tiga tahun saya menceburkan diri dengan mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam), khusunya mahasiswa sastra. Tidak sedikit dari mereka yang notabene adalah mahasiswa sastra, justru sangat tidak layak disebut mahasiswa sastra. Kebanyakan dari mereka rabun sastra dan gagap membaca. Tangan-tangan mereka terkepal seperti bermusuhan dengan pena dan tinta yang melukis huruf-huruf alphabet di kertas.

Sejatinya, satu-satunya cara merayakan sastra paling mudah dan praktis yaitu dengan membaca dan menulis. Celakanya, mahasiswa sastra (Unpam) lebih suka dengan kepopularitasan. Mereka gemar menyeret tubuhnya naik ke atas panggung dan berteriak-teriak membaca Rendra agar keluarga besar fakultas sastra tahu siapa dirinya. Tidak itu saja, mereka juga hanya sibuk dengan nama baik di mata dosen yang tujuannya tidak lain demi mendapatkan nilai A dan lulus tepat waktu. Normal is boring, barangkali itulah tanggapan saya mengenai jalan pikiran mahasiswa sastra (Unpam) Tangerang, Banten.

Dari pukul jam 08.00 pagi mereka duduk manis mendengarkan dosen berkhutbah, selanjutnya mereka membiarkan Hamka, Pramoedya, dan Alisjahbana membaca dirinya sendiri saat dosen memintanya sebagai tugas individu. Yang sangat disesalkan, kebanyakan dosen lebih suka keformalitasan, para dosen sangat kaku dan lurus. Tidak segan para dosen akan menceramahi mahasiswa yang nyeleneh dan urak-urakan jika meihat gaya berpakaian mahasiswanya macam musisi rock n’roll.

Bukan pada kapasitas saya untuk menanggapi penilaian dosen dengan mengatakan bahwa yang ditampilkan mahasiswanya adalah bagian dari seni. Mungkin para dosen sedikit lupa sejatinya antara seni dan sastra adalah dua saudara tak terpisahkan. Sebab hal ini sangat aneh, mereka lebih memperhatikan hal yang rempeh-tempeh daripada mengevaluasi mahasiswanya yang apatis dan mengikuti arus membiarkan sastra beku dan kedinginan.

Selama saya berguru dengan setia hingga berjam-jam lamanya mengikuti perkuliahan, belum pernah saya menemukan dosen dengan sikap dan gaya mengajar seperti Mr. Keating yang mempunyai panggilan puitis O, Captain, My Captain dalam tokoh novel Dead Poets Society, termasuk mahasiswanya. Apalagi jika harus dibandingkan dengan sosok Gie, barangkali seperti petala langit dan kerak bumi.

Kalau sudah begini mau dibawa ke mana kesusastraan kita. Puisi bukanlah teori hafalan seperti kitab-kitab mahasiswa fakultas hukum, bukan pula kitab suci sakral yang hanya dibaca saat ritual tertentu. Puisi adalah keindahan, kecantikan, seni, dan romance, puncak kenikmatan kata-kata. Maka biarkan manusia intelektual bernama mahasiswa menikmati puisi dengan gayanya. Dan para pendidik juga tidak boleh memperkosa kebebasan mahasiswanya, terlebih mengarahkan sesuai dengan keinginan mereka. Justru sebaliknya, tugas dosen adalah mendukung mahasiswa sesuai dengan impiannya, tidak melulu berjalan lurus mengindahkan peraturan kampus yang dikotbahkan setiap saat oleh jajaran rektorat.

Ini adalah bukti cerminan kesusastraan di kampus yang terhormat Universitas Pamulang berjalan stagnan. Tidak ada kebaruan, semuanya sewarna abu-abu, searah entah kearah tujuan mana. Pada ujungnya dibenak mahasiswa hanya berpikiran lulus, lulus, dan lulus. Ini mengerikan sebab, setelahnya, mereka tidak akan memikul sastra dipundaknya, juga tidak akan merasa berdosa dan bersalah setelah menceburkan diri ke tengah masyarakat.

Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggung jawab atas sikap apatis mahasiswa. Dosenkah, prodikah, atau mahasiswanya sendiri. Saya rasa semua pihak harus bertanggung jawab, terlebih mahasiswa. Mereka rekan mahasisiwa seringkali beralasan klasik, yakni terjebak rutinitas. Tidak bisa dipungkiri kebanyakan mahasiswa mengambil kelas karyawan atau eksekutif. Namun hal macam itu tidak dijadikan alasan, bagaimanapun juga meraka harus adil membagi waktu, tidak melulu dengan alasan bekerja, bekerja, dan bekerja hingga akhirnya alpa pengetahuan sastra. Perkuliahan jangan dimaknai secara sempit, perkuliahan bukanlah jembatan yang menghubungkan waktu pagi dengan sore atau ruang aktivitas antara kampus dan kos. 

Kalau boleh miminjam Soe Hok Gie, saya ingin berkata, pada akhirnya hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus, namun aku memilih menjadi manusia merdeka. Bila Gie meyakini kemerdekaan adalah lawan dari sikap ke-apatisme-an, maka saya pun membenarkannya.

Kesedihan yang Lain

/1/

Kesedihan yang lain setelah

kehilangan adalah kenangan

suatu hari nanti engkau akan

berkisah tentang tenang senja

setelah melewatinya dengan

orang berbeda dan aku diam

memamah pahit kesedihan

lain yang dalam.

/2/

Kesedihan yang lain setelah

kesepian adalah kekosongan.

Adakah yang lebih sendu selain

suara ciuman gelas dan sendok

yang beradu?

/3/

Kesedihan yang lain selepas

terhapus ia bernama pupus

sepagi inikah engkau pergi

cinta begitu ringkas dan lekas.

Adakah yang lebih sunyi selain

berbincang dengan diri sendiri?

/4/

Kesedihan yang lain selepas

mendung bernama murung

sepasang kaki melulu mengitari

jejak yang tadi–kadangkala

melangkah mengikuti bayang

sendiri. Dan gerimis diam-diam

menjukan wajahmu pada kedua

telapak tangan sebelum penuh

oleh air mata yang lebat bagai

hujan.

Tan Malaka

Matanya merah, mungkin marah

Tubuhnya bermandi darah

Ia tumbang ditebas kepentingan

Entah kalah atau mengalah

Sejarah selalu milik pemenang

Tuan Tan Malaka si pemikir besar

Orang di persimpangan jalan

Yang selalu renjana dan kesepian

Yang menyumbang gagasan dan badan

Untuk republik ini, ia harus meregang nyawa

Di bawah moncong senapan tentara

Republik yang didirikannya.

Selamat berpulang, Tuan Tan.

“Merdeka seratus persen”

Gumamku setelah membacamu

-Puisi ini saya tulis setelah mengikuti kegiatan rutin sekumpulan anak-anak muda, atau mereka biasa menamai kelompoknya SPOK (suara pemberontakan orang kecil).

Jakarta, 2017